Gara-gara Facebook (tugas cerpen BINDO_ku)

Hari ini saat Fajar telah tiba ku temukan seroang gadis yang sedang On-Line di Facebookku. Dengan perasaan heran langsung ku sapa dia dan ia pun membalasnya. Di kala itu aku telah sholat Subuh dan sedang mengotak-atik blogku dan kuminta ia tuk melihat hasilnya dan memberikan masukan. Hubungan perkenalan kami di dunia maya itu terus berlanjut hingga saat chating dengan dia menjadi suatu kebutuhanku. Aku tak tahu mengapa tapi hati ini terus mengisyaratkan dirinya. Mungkin ku telah larut dalam perasaan yang di namakan cinta tetapi ku terus menepis perasaan ini karena dirinya telah ada yang punya.

Hari-hari pun ku lalui dan ku mulai terbuka dengan dia. Semua keluh kesah hidup aku bagi dengan dia. Aku heran mengapa ku bisa cerita banyak dengan seorang yang belum pernah ku kenal secara nyata. Rasa penasaran akan dirinya membuatku membuka Profil tentang dia dan melihat-lihat fotonya. Cantik memang wajahnya, rambut yang menjadi mahkota para hawa ia bungkus dengan jilbab hitam di setiap fotonya.

Rasa cinta yang ada di dalam hatiku selalu menyesakkan malam-malamku. Tidurku menjadi tidak nyenyak karna bayangan wajahnya terus menari di dalam benakku. Hari pun terus berlalu seiring dengan usahaku untuk menghapus semua perasaan akan dirinya, yang di tandai dengan jalinan kasihku bersama wanita lain. Tetapi mengapa hati ini selalu menyebutkan namanya, dan pikiran ini selalu berkata "Aku relah dia bersama insan lain jika memang dia bahagia". Pikiran dan hatiku pun tak sejalan olehnya.

Keterbatasanku sebagai manusia yang tidak dapat menafikkan cinta pun mendorongku untuk mengungkapkan semua perasaan ini kepadanya. Walau pun hanya lewat Facebook kunyatakan perasaan ini dan hasil yang mengecewakanlah yang ku dapatkan. Aku tahu akan mendapatkan jawaban seperti ini darinya karena memang dia telah ada yang memiliki. Dan setelah kunyatakan perasaan ini pikiran akan dirinya pun mulai berkurang dengan jarangnya komunikasi antara kami.

Hari-hari berjalan seperti biasanya pagi ini tampak cerah bunga-bunga pun tersenyum seakan berkata awali harimu ini dengan senyum. Pikiran akan dirinya yang mulai terhapuskan membuat aku terpaksa memutuskan wanita yang menjadi pacarku dengan perasaan bersalah kata putus terucap dari bibir ini. Tidak dapat di pertahankan lagi hubungan itu karena perasaan kepada wanita itu tidak pernah ada. Pagi pun semakin tua dan berubah menjadi malam yang panjang.

Setelah beberapa bulan berlalu tiba-tiba gadis yang berjilbab hitam itu muncul di dalam pesan chat Facebook aku dan berkata "btw de' aku udah putus dengan *****." Aku pun mengisyaratkan itu sebagai pintu hatinya telah terbuka untuk diriku, tetapi ku tetap menahan emosi ini dan seolah-olah tidak ada reaksi besar walau hati ini terus merontah-rontah ingin kembali mencoba mengungkapkan perasaan cinta yang sempat ia tepis. Tetap saja keterbatasanku muncul lagi setelah beberapa minggu dan hasil yang ku dapat adalah perkataan "Prasaanku sudah ada 50% untukmu dan sisanya entah kemana". Walau pun itu belum bisa menjamin bahwa lampu hijau telah menyalah tetapi hati ini sangat senang.

Beberapa hari setelahnya itu beragam janjian ketemu pun kami lakukan tapi tak satu pun yang terjadi. Hingga saat ia kudapatkan di depan warnet kepunyaan kakakku di sebuah counter tetapi aku tak berani tuk menyapanya karena kecantikannya sungguh tak sama dengan foto-foto yang aku lihat di Facebook. Beberapa hari kemudian ia ku dapatkan lagi di counter itu untuk memperbaiki HP-nya. Dengan perasaan PD ku sapa dia dan ia pun membalas dengan senyum. Apakah ada yang tahu kalau senyumannya itu sungguh anggun dan tak pernah aku lihat sebelumnya.

Untuk saat ini belum ada kepastian akan perasaan ini aku tetap bersabar tuk menanti jawaban darinya walau pun hasilnya nanti akan menyakitkan perasaan ini atau pun sebaliknya. Aku memaklumi keadaan dia sekarang jika memang ia membuat aku menunggu karena kondisi dia yang lagi di tengah penantian untuk menghadapi Ujian Akhir Nasional tingkat SMA. Dan sungguh ku maklumi jika dia belum siap tuk menjamah perasaan ini karen usia aku yang terpaut 2 tahun lebih muda darinya, tapi aku tetap optimis untuk itu.

Tak jarang pikiran ini bertanya pada hatiku mengapa engkau mencintainya ???
Hati pun menjawab aku tak tahu, mungkin inilah yang di namakan perasaan cinta. Karena sebelumnya orang ini mencinta karena hanya untuk memuaskan dirinya saja bukan karena ALLAH, seperti kata si gadis yang membuatnya tergila-gila.
Pikiran ini pun tertawa seakan-akan tidak menerima jawaban dari hatiku.

Iya beginilah cinta, terkadang membuat hati dan pikiran tak sejalan. Tetapi bersyukurlah apabila kita mempunyai cinta karena itu semua anugrah dari sang Pencipta.

Ini adalah tugas cerpen Bahasa Indonesia yang dulu sempat aku simpan di catatan FacebookKu, cerpen ini aku buat pada 26 Februari 2010 tepat pukul 23:21 WIB, tapi ga' pernah kesampean untuk di posting.
Share on Google Plus

About Fais Wahid

Saya saat ini seorang mahasiswa strata 1 Geofisika di Universitas Hasanuddin yang mencoba untuk berbagi pengetahuan saya walau pun saya sendiri juga masih belajar.